Minggu, 26 September 2021
Selamat Datang di website SMPN 25 Malang, Menjadi sekolah sebagai tempat tumbuh kembang peserta didik yang unggul dalam imtaq, iptek, berbudi pekerti luhur, serta peduli dan berbudaya lingkungan.

Pentingnya Partisipasi Keluarga dalam Pendidikan Anak

Sistem pendidikan di Indonesia masih berkutat pada persoalan visi pendidikan nasional yang terus berganti sesuai perubahan rezim pemerintahan. Tak heran, kualitas pendidikan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Mayoritas publik pun menilai penting mengembalikan peran keluarga sebagai fondasi pendidikan anak.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia setidaknya tergambar dari hasil pengukuran kualitas siswa di sejumlah negara yang diselenggarakan the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) tahun 2012. Rata-rata kemampuan anak Indonesia usia 15 tahun di bidang matematika, sains, dan membaca paling rendah di antara negara-negara lain. Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam program yang diselenggarakan lembaga itu.

Penguasaan atas ketiga bidang dalam penilaian tersebut dianggap mampu menunjukkan tingkat kemampuan seorang anak dalam mengimplementasikan masalah-masalah di kehidupan nyata, mulai identifikasi persoalan hingga aplikasi solusi sesuai konteks. Selain rendahnya salah satu aspek kecakapan untuk bertahan hidup tersebut, moralitas generasi penerus bangsa juga terancam oleh budaya korup dan ketidakjujuran. Kecurangan dalam proses ujian nasional beberapa tahun terakhir menjadi contoh paling nyata.

Persoalan dalam dunia pendidikan Indonesia sangat kompleks. Meski demikian, kompleksitas itu harus diurai satu per satu dan dimulai pada periode perkembangan anak, saat anak masih berusia dini. Untuk itu, perlu ditingkatkan peran keluarga dalam proses pendidikan anak. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkutat di bidang anak, Unicef, dalam laman resminya mengingatkan pentingnya partisipasi orangtua dan komunitas dalam proses pendidikan anak sejak dini.

Keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak.

Hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Kompas pada 22-24 April 2015 menunjukkan, mayoritas publik menyadari pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Pengumpulan pendapat ini dilakukan terhadap 326 responden yang di keluarganya terdapat anak usia sekolah. Tak kurang dari 85 persen responden menyatakan bahwa orangtua dan keluarga memiliki peran paling penting dalam proses pendidikan anak. Hanya 15 persen responden yang menilai peran ini ada di tangan guru dan lingkungan di luar keluarga.

Sejumlah upaya dilakukan keluarga untuk mendukung pendidikan anak. Salah satunya dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. Rata-rata dua dari tiga responden mengaku menerapkan waktu khusus belajar bagi anak dan melakukan pendampingan saat anak belajar. Lebih jauh, tak kurang dari 60 persen responden mengaku mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kemampuan anak, seperti les tambahan untuk mata pelajaran sekolah, agama, ataupun hobi.

content

Peran aktif keluarga

Peran aktif keluarga perlu didukung oleh komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orangtua siswa. Adanya interaksi antara orangtua dan pihak sekolah menjadi kunci berlangsungnya proses pendidikan anak yang efektif, baik di sekolah maupun di rumah. Sayangnya, mayoritas (74 persen) orangtua murid yang terjaring dalam jajak pendapat ini mengaku tidak mengetahui pola pelajaran atau kurikulum yang diterapkan di sekolah. Hal ini menggambarkan minimnya interaksi aktif antara orangtua dan pihak sekolah.

Mayoritas responden mengatakan, sumber utama informasi terkait perkembangan anak di sekolah adalah guru. Namun, hampir separuh responden (45 persen) mengaku berkomunikasi dengan guru hanya satu atau dua kali dalam setahun, yakni pada akhir semester atau pada awal tahun ajaran baru. Persoalan lain, masih banyak orangtua yang belum menempatkan anaknya sebagai mitra yang perlu didengarkan.

Hanya sekitar 15 persen orangtua yang terbiasa menanyakan perkembangan sekolah pada anaknya. Padahal, komunikasi yang baik dapat membangun semangat kerja sama di antara orangtua dan anak. Proses komunikasi juga dapat mengikis perasaan anak sebagai obyek yang menanggung beban, terutama dari tekanan dan tuntutan untuk berprestasi.

Anak perlu didukung orang-orang dewasa di sekitarnya, baik guru maupun keluarga, untuk keberhasilan pendidikan mereka. Kesadaran ini tampaknya ditangkap pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan baru terkait peran keluarga dalam pendidikan anak. Selain upaya memperbaiki kurikulum pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.

Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses penguatan prestasi belajar siswa, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memiliki program penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, serta perilaku destruktif. Semua program tersebut diperuntukkan tak hanya untuk meningkatkan peran aktif orangtua kandung dari siswa, tapi juga wali atau orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak.

(LITBANG KOMPAS)